Saat tuk berbagi

1..2..3..4..5..6, terhitung enam anak kecil dengan pakaian lusuh bersama seorang pemuda yang nampak jauh lebih tua dari keenam anak tersebut terlihat sedang berteduh di emperan sebuah restoran cepat saji. Beberapa anak sedang asyik memainkan alat musik sederhananya, sedangkan dua anak lain sedang tidur beralaskan konblok tepat disamping restoran cepat saji tersebut.

Sementara di lantai dua restoran cepat saji itu nampak beberapa konsumen yang sedang menikmati makan siangnya tanpa merasa terganggu. Di kota ini makanan cepat saji bukanlah pilihan untuk mencari makan siang di sela sela jam istirahat kantor (karena warung bakso, soto/mie ayam, atau nasi rames/padang justru lebih populer sebagai tujuan untuk makan siang). Konsumen cepat saji disini hanya menikmati layanan yang bersih dan pemandangan yang luas di dalam resto, karena sebagian besar dinding resto ini adalah kaca sehingga mereka dapat melihat sibuknya lalulintas dari ruangan ber-ac. Dan mungkin mereka menikmati sebuah kemewahan junkfood sembari sedikit berbangga diri karena telah menjadi bagian dari budaya Amrik.

Pemandangan itulah yang kutemukan kemarin ketika sedang berhenti di sebuah lampu merah, di selatan UGM sekitar jam 1 siang. Mengingatkan saya akan arti pentingnya berbagi sebagai bentuk kepedulian kita pada sesama manusia dan tentu saja, sebagai wujud syukur pada Allah dan bentuk perwujudan Hablumminannas (maaf kalo salah penulisan).

Bukankah Islam sendiri menganjurkan kepada pemeluknya banyak bersedekah karena hal itu tidak mendatangkan kerugian dan membuat orang jatuh miskin, tetapi memberikan manfaat positif dunia dan akhirat. Allah SWT akan mengganti yang disedekahkan dengan karunia lebih baik.

Allah SWT berfirman, ”Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’: 39).

Bahkan Allah sendiri menjanjikan kepada hambanya yang bersedekah di jalanNya bahwa Allah kelak akan mengganti apa yang telah disedekahkan dijalanNya dengan surga.

Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga-Nya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS At Taubah: 99).

Saya jadi teringat sms gokil yang sering dikirim oleh teman saya, bunyinya begini:
Kalo hari ini adalah hari berbagi sedunia? Apa yg akan kau bagi untukku?”

note: sebagian materi diambil dari “Sedekah yang baik “ oleh Firdaus dalam file harian Republika : Kamis, 04 Nopember 2004

Hidup adalah sebuah pilihan

Hidup adalah pilihan. Allah memberikan kita kebebasan untuk memilih jalan hidup yang kita inginkan. Kata kata motivasi itulah yang selalu ditekankan oleh dr. Joserizal kepada kami beberapa hari yang lalu, ketika kami menyertai beliau dari satu event ke event lain.

Memang, dalam keadaan apapun kita tetap memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup kita. Ada orang yang cukup berpuas diri dengan menjadi orang biasa biasa saja, melewati hari hari yang biasa dan mendapatkan kebahagiaan sebatas rutinitas yang dilaluinya. Ada orang yang memilih mengemban amanah yang lebih besar, mewujudkan impian yang tinggi atau memilih kehidupan dengan tantangan yang lebih besar.

Kita pun demikian, selalu ada kebebasan bagi kita untuk menentukan jalan hidup seperti apa yang ingin kita lalui. Bahkan ketika kita terhimpit, kita merasa terbelenggu, sebenarnya pilihan tersebut masih ada. Satu contoh yang dibawakan oleh dr. Jose yaitu banyak anak anak di Gaza yang hafal Al Qur’an dan tetap mampu menjaga hafalan Qur’an mereka meskipun dalam keseharian, mereka hidup dalam keterbatasan. Salah satu oleh oleh dr. Jose yang cukup berkesan adalah ketika dr. Jose dan beberapa dokter lain mengoperasi seorang anggota brigade Al Qassam, dalam keadaan terbius pasien dr. Jose tersebut terus menerus melantunkan ayat ayat suci Al Qur’an.

Hal ini membuktikan (setidaknya bagi saya) bahwa dalam kondisi apapun kita tetap memiliki kebebasan (dan kekuatan) untuk menentukan jalan hidup kita. Untuk tetap memilih jalan hidup terbaik, dan tidak menyerah begitu saja. Sungguh sangat disayangkan karena seringkali saya menyerah untuk menjadi lebih baik, sekedar mengikuti arus yang justru semakin mengkerdilkan jiwa saya.

Padahal hidup ini adalah hidup kita, dan kelak kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupan kita. Tanggungjawab akan hidup yang lebih baik atau lebih buruk sepenuhnya ada ditangan kita.

berbenah kembali

Alhamdulillah, satu ungkapan rasa syukur ketika menginjak sebuah hari dimana agenda dalam hari tersebut tak lagi sepadat hari hari sebelumnya. Sebuah hari yang tak begitu spesial, namun justru memberi kesempatan untuk sedikit berbenah (dan posting lagi:)). Kesempatan untuk berkaca kembali, karena ternyata masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Kesempatan untuk rehat sebentar, memberi jeda untuk pikiran dan hati agar dapat berkoordinasi.


Sedikit terhenti untuk melangkah kembali. Walaupun dalam hidup kita sebenarnya tidak ada kata berhenti, yang ada adalah terus berjalan. Hanya saja yang perlu kita perhatikan adalah apakah kita berjalan dengan arah tujuan yang benar ataukah menyimpang? Apakah selama ini kita telah mengikhlaskan langkah kita, untuk melangkah menuju tujuan hidup kita yang sebenarnya. Ataukah langkah kita justru telah terbiaskan oleh kesibukan kesibukan yang tak berarti. Terjebak pada masalah masalah kecil yang sebenarnya mampu kita atasi jika kita memang punya kesungguhan hati.

Allah berfirman,

Kehidupan dunia ini hanyalah suatu permainan atau senda gurau. Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, lebih baik dan kekal (QS Al An’aam: 32).

Oleh sebab itu, Muslim tidak boleh teperdaya oleh kehidupan dunia yang bersifat sementara. Ia perlu mempertimbangkan kepentingan kehidupan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Allah berfirman, ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya? Maka, apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?(QS Al Qashash: 60-61).


Pagi ini saya teringat kembali akan kisah seorang Panglima Perang bernama Thariq, yang dengan jumlah pasukan cenderung minim, mendarat di sebuah batu karang tepi pantai untuk membebaskan suatu daerah dari kekuasaan seorang Penguasa Zhalim. Setibanya di Pantai, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal. Lalu ia berkata pada pasukannya, “Tidak ada lagi jalan ke Belakang, Di Belakang adalah laut, dan di Depan adalah musuh, Jika kalian tetap ingin hidup, tidak ada cara lain selain mengalahkan mereka”, maka pasukan itu pun terus maju, dan akhirnya pasukan itu pun menang. Dan selat itupun sekarang dinamai selat Gibraltar.

dan bukan saya

Semalam, tepat di lampu merah utara kampus UIN SuKa, seorang gadis kecil masih juga menghampiri pengendara pengendara yang sedang berhenti. Ia membawa sebuah wadah dari air minum gelasan, berharap ada seseorang yang mengulurkan tangan kepadanya. Tak ada yang mengisi gelas tersebut, kecuali rintik hujan yang semakin deras.

Setiap orang terlalu sibuk dengan tujuan masing masing sehingga gadis kecil tersebut hanya dipandang sambil lalu. Apalagi hujan sudah semakin deras dan setiap orang pasti ingin segera dapat berteduh dari hujan, terkecuali gadis kecil tersebut. Gadis kecil yang terlewatkan.

Keras kehidupan yang dilalui oleh gadis kecil tersebut mengingatkan saya pada seorang teman lama. Seorang teman yang semalam menyediakan tempat  bagi saya untuk bermalam. Memaksa saya untuk memakai kasurnya, sedangkan Ia lebih memilih tidur ditikar. Seorang teman yang tak lagi mendapatkan asupan nafkah dari orang tuanya. Sehingga memaksanya untuk terus mencari pekerjaan untuk mempertahankan hidupnya, dan ketika tak ada yang mau mempekerjakannya maka Ia menjadi pengamen jalanan.

Hasil dari mengamen tidaklah seberapa, karena Ia juga harus berbagi wilayah dengan pengamen lain. Namun dari hasil yang tak seberapa itu, setengahnya masih harus diberikan kepada penguasa wilayah. Dan terkadang ketika Ia dan teman temannya sedang berkumpul, uang itu habis digunakan untuk membeli minuman keras.

Dengan kehidupan seperti  itu, Ia banyak memiliki teman sesama pengamen dan anak jalanan. Membuatnya membangun solidaritas sesama pengamen. Dan ketika mereka ingin berpesta, maka Ia harus turut serta atau tak lagi diijinkan mengamen lagi. “Makan urusan besok, sekarang untuk urusan sekarang” , itu kata kata yang sering dipakai temannya ketika memaksa iuran, menyerahkan hasil mengamen untuk membeli minuman keras oplosan.  Pada saat seperti itu Ia tak lagi dapat menghindar.

Dan mungkin, justru para pengamen itulah yang mampu memahami keadaannya. Mampu menjadi sahabatnya, pada saat kehidupan ini pahit sekalipun, dan bukan saya.

Mungkin justru orang orang seperti teman saya inilah yang lebih mampu memaknai sebuah kehidupan. Ketika kesulitan tetap membuatnya tegak berdiri, tidak menjadikannya seperti anak kecil yang cengeng. Berhadapan dengan kekerasan, atau tak lagi makan keesokan harinya.

Mereka dengan keterbatasannya, mencoba berbagi kebahagiaan kepada sesamanya meski terkadang jalan hidup yang mereka ambil salah. Yup..hidup mereka memang tidaklah sempurna, tidak cukup sempurna untuk diimpikan oleh kebanyakan orang.

Dan jika kita tidak pernah mengimpikan kehidupan seperti itu, jika kita memandang bahwa kehidupan tersebut tidak cukup sempurna untuk dihormati. Lalu kenapa kita yang setidaknya kehidupannya lebih baik, justru tidak memiliki ketegaran yang mereka miliki. Kenapa kita mudah bersedih dan putus asa ketika apa yang kita harapkan tidak berubah nyata. Padahal upaya yang kita berikan sebenarnya belumlah cukup untuk membuat impian kita nyata.

(teruntuk seorang teman di dekat rel)

Seorang teman dan kopi pagi

Hari ini pagi  datang sedikit terlambat. Hujan semalam masih menyisakan mendung gelap yang menggantung, menjadikan malam seakan lebih panjang dari biasanya. Membuat suara adzan subuh terserap sempurna oleh dinginnya pagi. Setelah menunaikan sholat subuh di masjid yang sepi (ya iyalah, jama’ahnya udah kelar dari tadi), saya mengawali hari dengan mengajak seorang teman (diajak lebih tepatnya) untuk minum kopi di sebuah warung burjo yang hanya berjarak beberapa meter dari kost-nya.

Sembari menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi, kami berbagi cerita tentang kehidupan masing masing. Terkadang perhatian kami tersita dengan orang yang lalu lalang di depan warung. Saat seorang pemulung lewat di depan kami, tiba tiba teman saya bertanya “Kira kira anaknya tau ngga’ ya kalo ayahnya jadi pemulung“. Saya mencoba menerka sekenanya “Ya, taulah“. Dia langsung menyahut “Kira kira anaknya malu ngga’ ya, kalo tau ayahnya seorang pemulung?” . Sejenak membuatku berpikir sedikit lebih keras.

Saya mencoba membayangkan bagaimana kondisi psikologis si anak. Di satu sisi, tentu saja seorang anak ingin dapat tampil didepan teman temannya seperti anak anak yang lain. Memiliki kehidupan yang layak, tanpa cibiran masyarakat. Mungkin saja pada satu waktu si anak tersebut pernah merasa marah dan malu karena Ayah tidak mencari pekerjaan yang lebih baik (setidaknya dari sudut pandang masyarakat).

Namun di satu sisi, si anak sebenarnya memiliki seorang Ayah yang teramat mencintainya. Rela bekerja keras dan berangkat pagi pagi sekali, bahkan ketika orang lain masih enak enakan tidur. Ia memiliki seorang Ayah yang berjuang merubah masa depan anaknya, agar kelak si anak tak lagi harus bernasib sama seperti Ayahnya. Agar kelak si anak memiliki kehidupan yang lebih baik dan dapat membuat orang tuanya bangga.

Dialog pagi itupun tak menghadirkan satu jawaban dari saya . Kemudian pertanyaan itu dijawab sendiri oleh teman saya “Seharusnya anaknya ngga’ boleh malu“.

Pagi ini lewat dialog kecil, seorang teman seolah membawakan sebuah cermin pada saya. Mencoba membangunkan saya dari tidur panjang yang membuat saya lupa bahwa saya harus benar benar terbangun. Benar benar berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Benar benar terbuka matanya dan mampu melihat bahwa di dunia ini ada yang mungkin tidak seberuntung kita, namun mereka tak pernah menyerah dan tak pernah lupa untuk bersyukur atas apa yang mereka peroleh.

Saya menjadi teringat bahwa kesuksesan seseorang justru bukan dinilai dari harta ataupun jabatan yang Ia peroleh, bukan dari sisi luar orang tersebut. Akan tetapi dinilai dari inner yang ada pada orang tersebut. Kesuksesan dinilai dari mentalitas mereka yang tak kenal menyerah dan tak pernah takut untuk terus mencoba. Dinilai dari semangat hidup yang tak pernah padam, meskipun mereka waktu itu tengah terhempas pada titik nadir kehidupan. Dinilai dari kejernihan  pikiran mereka sehingga ketika sebuah musibah datang, Ia tidak menjadi orang yang berpikiran pendek. Dinilai dari kejernihan hati mereka sehingga ketika sebuah musibah melanda, Ia masih bisa tersenyum, mencoba mengambil hikmah dan bersyukur karena pelajaran besar tengah diberikan kepadanya. Sehingga kelak Ia dapat menjadi insan yang lebih baik lagi..

Sketsa dua hujan dan senja

Tautan antara sepenggal fenomena dan debu diatas langit..

Hanya pada sebuah senja, dalam dua titik hujan saya dipertemukan dengan orang orang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Orang orang yang sampai saat ini hanya dapat kuingat wajahnya, tanpa pernah tahu nama mereka. Orang orang yang kemudian bertaut sketsa hidup denganku, untuk sesaat. Orang orang yang kemudian kunamakan sebagai manusia pagi dan manusia senja.

Tidak banyak yang kutahu dari kedua orang ini. Setahuku manusia pagi adalah seorang pengelana, jauh dari negeri seberang. Bertekad untuk memperjuangkan nasib, dan kutemukan sedang berteduh bersamaku dari hujan dalam keadaan papa. Ia hanya berteman dengan sebotol air minum dan sebuah kaos yang dilipatnya, tanpa saudara,tanpa rumah, tanpa istri apalagi anak. Bahkan dengan umurnya yang sudah cukup tua, dia belum pernah merasakan indahnya pelaminan.

Kondisinya yang mulai sakit dan terlihat menua memaksanya untuk selalu mendekatkan diri pada Allah. Bertahan hidup dari masjid ke masjid, mengikhlaskan takdir hidupnya dan selalu memohon akan pertolongan serta perlindungan Allah bahkan dalam seteguk air yang akan diminumnya. Kondisinya yang teramat lemah dan tidak berharga tidak membuatnya ingin mengambil jalan pintas. Jalan pintas yang sering diambil orang lain dengan menjadikan diri mereka peminta minta, pelaku kriminal, ataupun jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan dengan melepaskan nafasnya. Ketika kita diuji kehilangan segalanya, berapa orang dari kita yang akan tetap bertahan pada asa, berpegang teguh pada keyakinannya tanpa mengambil jalan pintas? Tidak banyak, dan orang ini adalah salah satu dari sejumlah orang tersebut.

Pilihan hidup yang diambilnya teramat asing dimata saya, bahkan tidak masuk akal. Membuatnya terlihat bak ksatria yang kalah perang. Ksatria yang tidak takut akan kematian, dan berusaha untuk tetap bertempur sampai titik penghabisan meskipun kekuatannya bukan lagi ancaman. Ksatria yang kehilangan harga dirinya karena kejayaan telah terenggut darinya, namun tak membuatnya ingin melepas kehormatan yang masih tersisa. Walaupun kesejahteraannya akan lebih baik apabila ia mau melepas baju zirahnya, bukan berarti kemudian ia memilih untuk melepas baju zirah dan melupakan sumpah ksatrianya.

Di satu titik hujan lain saya bertemu manusia senja. Usia manusia senja nampak tak berselang jauh dari manusia pagi. Akan tetapi manusia senja terlihat lebih sejahtera, setidaknya ia memiliki rumah, istri beberapa harta dan seorang anak. Anak yang sedang dilanda musibah karena tangan kanannya patah. Bersama mereka saya melalui sebuah peristiwa. Sebuah peristiwa yang menggoreskan luka pada tubuh ketiganya.

Mungkin karena beban hidup manusia senja yang teramat berat, Ia memilih jalan hidup yang sedikit arogan. Melampiaskan segala kekesalannya pada orang yang tidak dikenalnya. Orang yang nampak tepat untuk dipersalahkan. Bersama istrinya, Ia tak henti hentinya melakukan pembelaan dengan membangun opini publik. Pembelaan yang saya sendiri malas untuk mendebatkannya (cukuplah Allah sebagai saksi dan bukankah Allah tidak pernah tidur? dan jikapun ternyata saya yang salah, yang penting saya sudah bertanggung jawab). Sebuah pilihan hidup yang terlihat lebih rasional bagi saya, pilihan hidup yang dapat saya pahami karena mungkin musibah ini terasa terlalu berat bagi manusia senja.

Dua titik hujan sebelum senja yang kemudian mengenalkan saya akan ujian dari Allah berikut dua cara yang teramat berbeda untuk dapat keluar dari musibah tersebut. Kita tidak pernah tahu kapan dan melalui sebab apa sebuah musibah akan menimpa kita. Semua itu adalah bagian dari takdir Allah. Akan tetapi kita selalu memiliki pilihan dengan cara apa kita akan melalui musibah tersebut.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (Al Ahzab:17)

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At Taghaabun:11)

Debu dibawah langit

Kemarin sore ketika sedang dalam perjalanan ke rumah, untuk kesekian kalinya saya harus terjebak hujan. Membuat saya harus menepi untuk mengenakan mantel. Memang kalau memakai motor ada banyak untung ruginya, dengan motor maka kita dapat menikmati aksesibilitas yang lebih luas ketika ingin menelusup ditengah tengah kemacetan, menyusuri gang gang kota Jogja yang memang terkenal sempit (perasaan dikota kota lainpun yang namanya gang juga sama sempitnya) atau untuk sekedar k€βμζ**@π di jalanan. Namun ketika hujan datang, maka kita harus lebih banyak bersabar, and riding carefully.

Hanya dalam hitungan detik setelah saya menyalakan motor kembali, sebuah motor dengan kecepatan tinggi menyerempet sisi kanan saya. Posisi saya yang masih berjalan lambat menguntungkan saya sehingga masih mampu mengendalikan keseimbangan dan tidak jatuh tersungkur. Alhamdulillah, hanya footstep yang bengkok tersambar motor plus knalpot berikut sistem pengapian yang menjadi korban. Namun sial bagi bapak yang menyerempet saya. Ia langsung tersungkur tepat di depan saya lengkap dengan anak dan istri yang diboncengnya.

Dari penuturan bapak tersebut, semula Ia berencana untuk memeriksakan anaknya yang memang pada saat itu tangan kanan si anak sedang di perban dengan dua papan melekat didalamnya. Anak tersebut pada pagi harinya mengalami patah tulang ketika sedang bermain bola di sekolah dan sore hari baru akan diperiksakan. Yup..sebuah tangan yang patah, dan sore ini bertambah hiasan lecet lecet beberapa bagian tubuhnya. Bukan hanya pada si anak tapi juga pada bapak dan ibunya.

Dengan mata melotot bapak tersebut langsung memarahi saya sembari menyita SIM saya. Sedikit membuat saya terheran karena kali ini saya yang ditabrak, saya yang dimarahi dan saya pula yang akan bertanggung jawab. Namun bagaimanapun urusan ini harus segera selesai, karena saya pernah mengalami hal yang sama (saat itu saya terjatuh ketika sedang berangkat ke sekolah dan kupaksakan untuk tetap mengikuti pelajaran sampai usai, baru setelah agak sore kuperiksakan ke rumah sakit dalam keadaan membengkak).
Jikapun ditawari, tidak seorang pun dari kami (dan mungkin tak seorangpun dari kita) yang ingin mengalami musibah seperti ini. Namun semua ini adalah takdir Allah, ketika seseorang yang berjalan perlahan harus tertabrak bukan dari depan atau samping, tapi justru dari belakang. Ketika seseorang yang ingin menolong anaknya dan hampir terjebak hujan terpaksa menabrak pengendara yang berada di depannya (mungkin karena pengendara tersebut terlalu pelan sehingga harus tertabrak). Dan ketika itu pula seorang hamba menyadari bahwa kita bukanlah apa apa, kita hanyalah setitik debu yang teramat lemah dan tak berarti. Debu yang tunduk pada kuasa Allah akan takdirnya, debu yang hanya dalam sehari saja dijadikan sebagai pintu rizki atas hambanya pada satu waktu dan sekaligus menjadi pintu musibah bagi hamba lainnya pada sepenggal waktu berikutnya.

Maha besar Allah atas segala rencanaNya.

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus:10).

Note:
Sekaligus permintaan maaf ke teman teman, karena tidak jadi menyertai ke Dieng. Bukannya mau ingkar janji, tapi memang kondisi tidak memungkinkan( btw sebagian jatah buat bayar semesteran juga terpakai buat pengobatan korban. Mmm…ada yang bisa dipinjami uang ?)

Sepenggal fenomena

Sepagian mendung terlihat menggantung menggantikan atap langit yang penuh dengan hangat sinar mentari. Membuatku ragu untuk melangkahkan kaki ke kampus. Dalam hati ku bergumam “Sampai di selokan mataram pasti hujan bakal turun, padahal posisiku pagi itu sedang di sebelah utara ekonomi UII). Benar dugaanku, begitu masuk jalan Affandi hujan langsung turun. Aku mencoba untuk bertarung dengan hujan pagi ini, beradu kecepatan dengan pengendara lain yang mencoba menghindari hujan,namun justru hujan semakin deras. Yang terpikir hanyalah segera dapat berteduh dari hujan. Terbersit ide untuk berteduh di Nurul Ashri dan seketika itu pula aku langsung mengambil jalan kekanan menuju Nurul Ashri.

Saat sampai di masjid itu, hanya ada dua orang yang ikut berteduh dari hujan. Satu orang bersandar pada tiang di sebelah utara, dan seorang lagi berada di beranda sebelah selatan masjid. Aku melangkah mengambil air wudhu dan menunaikan kedua sholat sunnah. Ketika selesai, saya menoleh ke sebelah utara, dimana seorang bapak yang cukup tua sedang bersandar pada tiang masjid. Dari penampilannya yang tak cukup rapi, tampak bahwa Ia seorang musafir. Ia mengangkat sebotol air minum setinggi dada dengan tangan gemetar. Berdoa untuk waktu yang sangat lama, dan kemudian meminumnya untuk seteguk. Ya.. hanya seteguk saja yang Ia minum tetap dengan tangan yang gemetar.

Pemandangan ini membuatku ingin sekedar mengobrol dengannya, sembari menunggu hujan reda. Namun aku tak cukup berani mengawali pembicaraan. Aku hanya berjalan memutar, melihat ke kolam, tempat dimana ikan koi yang besar besar sedang dengan bebasnya berenang.

Setelah beberapa saat kuberanikan diri untuk menghampiri orang tersebut. “Warga sini ya pak” ujarku sekedar berbasa basi. Diluar dugaanku, dia justru mencoba bercerita panjang dengan nada lirih terbata bata. Ia menceritakan bahwa dirinya adalah seorang bujang meski cukup tua (tampaknya sekitar 45 tahunan), disini (jogja) sendirian tidak punya anak dan istri. Berasal dari Gorontalo dan dulu sewaktu muda adalah perantauan, dan ketika tua dia hanya bisa bertahan (mencoba bertahan hidup) dari masjid ke masjid. Hanya itu yang mampu kudengar karena memang tutur katanya sangat lirih pun dengan terbata bata.

Degg…kisahnya membuatku merinding, bertahan hidup dengan sebotol air yang entah itu air dari keran ataukah air masak. Seorang perantau yang tidak lagi bekerja dan hanya ditemani oleh satu botol air minum, sepasang sandal dan sebuah kaos yang dilipatnya serta pakaian yang sedang dikenakannya. Lebih memilih menggigil kelaparan daripada menjadi peminta minta dan tetap berusaha untuk selalu dekat dengan Allah, menjadikan rumah Allah tempatnya menyerahkan segala ikhtiarnya.

“Sudah sarapan pak?” tanyaku.  “Sebenarnya saya belum sempat makan apa apa” jawabnya lirih terdengar. Tampak Ia mencoba menahan diri untuk tidak menangis dihadapanku. Aku hanya bisa memberikan sedikit bantuan kepada bapak tersebut sembari meminta beliau untuk tetap memohon pada Allah. Bantuan yang Ia sendiri tak mau menerima langsung. Tak banyak yang bisa kukatakan waktu itu karena aku sendiri menjadi terbata bata, setelah mendengar kisah hidupnya.

“Bapak muslimkan?” tanyaku ketika tersadar bahwa bisa saja Ia hanya mencari tempat berteduh di masjid ini. Dia kemudian bercerita bahwa dahulu ketika masih muda dia adalah muadzin.

Aku hanya bisa mengingatkan untuk jangan melupakan Allah, apapun musibah yang sedang diujikan ke kita(karena aku sendiri tak tahu harus berkata apa). Kemudian aku meninggalkannya. Menyalakan motorku dan segera meninggalkan masjid itu. “Hasbunallah wa nikmal wakil..hasbunallah wa nikmal wakil..” airmataku tak tertahan lagi, tubuhku serasa terguncang ketika sebuah cobaan sedemikian berat ternyata kutemui di depan mataku.

Sebuah musibah yang mungkin tak semua orang mampu tetap bersabar dengannya. Ketika kita sudah cukup tua mendekati umur lima puluh tahun, jauh dari kampung halaman, tanpa saudara, teman, istri dan anak. Mencoba bertahan hidup di tengah kota, sekedar bertahan untuk hidup yang lebih panjang. Namun tetap membuatnya bertahan untuk tidak memilih jalan hidup sebagai pengemis ataupun melakukan tindakan kriminal dan menyerahkan segalanya pada Allah.

Maha besar Allah atas segala rencananya.

‘dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).’ (QS. Al Fath:3)

No body’s perfect

Seorang teman datang menghampiri, kemudian membuka dan menunjukkan blognya sembari bercerita bahwa Ia punya keinginan besar untuk menghidupkan blognya, untuk menjadi seorang blogger. Ia ingin saya membantunya menyempurnakan blognya sebelum blog itu terlacak oleh SEO. Selain itu dia menyimpan sebuah kekhawatiran,takut jika hasil karyanya di copy paste oleh orang lain. Sepertinya Ia tidak berharap pengunjung blog dapat mencopy paste materi di dalamnya.

Dua buah keinginannya membuatku tersenyum, dan mencoba untuk tetap terlihat sedang berpikir. Namun di dalam hati saya berujar “Haduuh..anda datang pada orang yang salah !”. Tidak ada solusi yang bisa saya berikan, dan hanya saya tunjukkan beberapa blog orang yang menurut saya cukup fantastis, mampu menggugah semangat untuk tetap menulis. Hmm..dua buah keinginannya yang aku sendiri belum pernah membayangkannya. Mungkin karena dalam kehidupan sehari hari saya belum pernah tampil sebagai sosok yang sempurna, sosok yang dielu elukan meski untuk satu orang saja . Mungkin karena saya tidak pernah terlihat cukup cerdas dan kreatif sehingga tidak ada orang yang ingin mengcopy paste apapun dari diri saya. Selama ini saya hanya mampu tampil ala kadarnya dan akan terlihat aneh jika saya memaksakan diri untuk tampil sempurna(Haha..jadi teringat Budi Anduk di Tawasutra).

Bahkan menjadi sempurna bukanlah sesuatu yang saya inginkan. Bukankah tampil apa adanya, namun bersedia untuk secara konstan melakukan perbaikan terus menerus (semangat kaizennya muncul nih..) akan terlihat lebih indah? Daripada jika kita tampil sempurna, seolah tak pernah jatuh pada sebuah lubang yang membuat kita terluka, tak pernah terseok seok ketika mencoba bangkit kembali dari kegagalan yang menimpa?

Bukankah kita sudah cukup hafal dengan ungkapan “No body’s perfect”. Tidak ada orang yang sempurna di muka bumi ini(tentu saja selain Rasulullah). Nah jadi ingat..bahkan untuk sekaliber Rasulullah sekalipun, yang jelas jelas dijamin masuk surga. Dijaminkan oleh Allah bahwa beliau bersih dari dosa. Beliau tetap meminta akan ampunan dari Allah, tetap melaksanakan sholat di sepertiga malamnya, tetap menjaga hafalan Qur’an dan puasa sunnah serta amalan amalan lainnya.

Untuk sosok yang telah sedemikian sempurna saja, selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Lalu kenapa kita yang ingin menampilkan sosok sempurna dalam diri kita, justru melupakan proses menjadi lebih baik itu sendiri. Bukankah hidup kita sendiri adalah proses? Proses dari TIADA-ADA-TIADA-(ADA). Proses dari terlahir, remaja, dewasa, tua. Jadi untuk apa menunggu menjadi sempurna, jika kita enggan terlibat dalam proses menjadi lebih baik.

Sekarang bukanlah saatnya untuk terbebani dengan impian menjadi sempurna. Tetapi saatnya untuk terlibat dalam proses menjadi lebih baik. Proses yang terangkai dari checkpoint checkpoint kecil. Proses yang selalu mengajak kita untuk melakukan perbaikan dari hal hal ringan.

10 pemuda

Gusar..geram..gelisah, ketika dalam satu hari saja aku tidak mampu menemukan setetes embun kesejukan dalam kehidupanku. Ketika semuanya mengalir sempurna, menjadikan arus yang menenggelamkan kita pada satu status : normal. Bahkan membuatku bingung dengan apa yang akan aku tulis pagi kali ini. Ingin ku berbagi setetes embun kesejukan pada dunia. Tapi apa mungkin, jika embun itu sendiri enggan menyapaku.

Pagi ini, kucoba untuk membentangkan langkahku lebih jauh. Mencoba menghapus ingatan hari kemarin. Ketika aku mengalir bimbang hingga hampir tertabrak di jalanan. Ketika aku hanya bertemu dengan kehidupanku di masa lalu, ketika para pemuda berkumpul dan tak banyak yang terjadi (kecuali berkumpul itu sendiri). Berbincang datar tentang kesempurnaan mimpi(mereka). Bercerita akan ceweknya, film terbaru yang dibajak dari warnet, tentang peluang hidup mapan sebagai pns, tentang update-an naruto terbaru. Huh..tentang semua hal yang aku tidak tertarik lagi, semua hal yang sejenak telah aku tinggalkan.

Langkahku pagi ini berujung pada sebuah masjid, di perkampungan sebelah. Berjarak dua kilometer dari  kos temanku. Jama’ah subuh sudah usai disini, menyisakan empat ibu ibu yang hampir lanjut usia sedang mengaji Al Qur’an. Ibu ibu yang selalu menjaga masjid di pagi hari, karena mereka biasanya baru meninggalkan masjid pada pukul tujuh pagi atau lebih.

Mereka yang sedemikian tua saja masih begitu bersemangatnya, kenapa kami yang masih muda hanya tergelepar tidak jelas arahnya. Ataukah justru usia yang kemudian mampu membukakan mata hati kita. Jikapun begitu, aku ingin menua seperti mereka, tak tertipu akan bayang semu angan kita. Bayang semu yang hanya menjerumuskan kita, membuat kita terlalu sibuk akan dunia dan lupa akan sebuah kehidupan tak berujung kematian.

Bung Karno pernah berkata: “Berikan aku 10 pemuda, maka aku akan mengubah dunia”. Semangat yang luar biasa.

Jika pun pagi ini aku boleh bermimpi, sebelum mentari benar benar muncul dari balik awan. Aku tak kan bermimpi terlalu tinggi. Aku tak bermimpi menjadi salah satu dari 10 pemuda itu. Tapi izinkanku untuk bertemu dengan 10 pemuda itu. Izinkan aku untuk belajar banyak dari mereka. Belajar menjaga semangat akan sebuah perubahan yang lebih baik. Belajar akan arti penting sebuah perjuangan. Belajar untuk tidak sekedar tenggelam atau bahkan terseret pada arus normalitas. Belajar untuk menjadi seperti mereka. Belajar untuk mengubah dunia..