Seorang teman datang menghampiri, kemudian membuka dan menunjukkan blognya sembari bercerita bahwa Ia punya keinginan besar untuk menghidupkan blognya, untuk menjadi seorang blogger. Ia ingin saya membantunya menyempurnakan blognya sebelum blog itu terlacak oleh SEO. Selain itu dia menyimpan sebuah kekhawatiran,takut jika hasil karyanya di copy paste oleh orang lain. Sepertinya Ia tidak berharap pengunjung blog dapat mencopy paste materi di dalamnya.
Dua buah keinginannya membuatku tersenyum, dan mencoba untuk tetap terlihat sedang berpikir. Namun di dalam hati saya berujar “Haduuh..anda datang pada orang yang salah !”. Tidak ada solusi yang bisa saya berikan, dan hanya saya tunjukkan beberapa blog orang yang menurut saya cukup fantastis, mampu menggugah semangat untuk tetap menulis. Hmm..dua buah keinginannya yang aku sendiri belum pernah membayangkannya. Mungkin karena dalam kehidupan sehari hari saya belum pernah tampil sebagai sosok yang sempurna, sosok yang dielu elukan meski untuk satu orang saja . Mungkin karena saya tidak pernah terlihat cukup cerdas dan kreatif sehingga tidak ada orang yang ingin mengcopy paste apapun dari diri saya. Selama ini saya hanya mampu tampil ala kadarnya dan akan terlihat aneh jika saya memaksakan diri untuk tampil sempurna(Haha..jadi teringat Budi Anduk di Tawasutra).
Bahkan menjadi sempurna bukanlah sesuatu yang saya inginkan. Bukankah tampil apa adanya, namun bersedia untuk secara konstan melakukan perbaikan terus menerus (semangat kaizennya muncul nih..) akan terlihat lebih indah? Daripada jika kita tampil sempurna, seolah tak pernah jatuh pada sebuah lubang yang membuat kita terluka, tak pernah terseok seok ketika mencoba bangkit kembali dari kegagalan yang menimpa?
Bukankah kita sudah cukup hafal dengan ungkapan “No body’s perfect”. Tidak ada orang yang sempurna di muka bumi ini(tentu saja selain Rasulullah). Nah jadi ingat..bahkan untuk sekaliber Rasulullah sekalipun, yang jelas jelas dijamin masuk surga. Dijaminkan oleh Allah bahwa beliau bersih dari dosa. Beliau tetap meminta akan ampunan dari Allah, tetap melaksanakan sholat di sepertiga malamnya, tetap menjaga hafalan Qur’an dan puasa sunnah serta amalan amalan lainnya.
Untuk sosok yang telah sedemikian sempurna saja, selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Lalu kenapa kita yang ingin menampilkan sosok sempurna dalam diri kita, justru melupakan proses menjadi lebih baik itu sendiri. Bukankah hidup kita sendiri adalah proses? Proses dari TIADA-ADA-TIADA-(ADA). Proses dari terlahir, remaja, dewasa, tua. Jadi untuk apa menunggu menjadi sempurna, jika kita enggan terlibat dalam proses menjadi lebih baik.
Sekarang bukanlah saatnya untuk terbebani dengan impian menjadi sempurna. Tetapi saatnya untuk terlibat dalam proses menjadi lebih baik. Proses yang terangkai dari checkpoint checkpoint kecil. Proses yang selalu mengajak kita untuk melakukan perbaikan dari hal hal ringan.
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



saya setuju dengan tulisan ini.. bener banget klo ga’ ada manusia yag sempurna itu… tapi kenapa orang selalu berlomba lomba mencapai kesempurnaan itu??
nice post…
Salam kenal…
kesempurnaan itu hanya milik ALLAH … nobody have
Pandanganku berbeda Rom (ben rodo keren..hallah)
Menjadi sempurna seperti sebuah visi dan misi yang sangat jauh bagi diriku. Itulah yang membuat hidup kita menjadi semangat karena visi dan misi yang kita miliki menjadi energi yang sangat besar dalam menjalani hari-hari. Visi menjadi hamba Allah yang menegakkan kalimat-Nya di muka bumi takkan pernah selesai kan?sampai maut menjemput sehingga menuntut ilmu itu hukumnya wajib sampai kita mati karena dengan itulah kita menyempurnakan ibadah-ibadah kita.