Sepagian mendung terlihat menggantung menggantikan atap langit yang penuh dengan hangat sinar mentari. Membuatku ragu untuk melangkahkan kaki ke kampus. Dalam hati ku bergumam “Sampai di selokan mataram pasti hujan bakal turun, padahal posisiku pagi itu sedang di sebelah utara ekonomi UII). Benar dugaanku, begitu masuk jalan Affandi hujan langsung turun. Aku mencoba untuk bertarung dengan hujan pagi ini, beradu kecepatan dengan pengendara lain yang mencoba menghindari hujan,namun justru hujan semakin deras. Yang terpikir hanyalah segera dapat berteduh dari hujan. Terbersit ide untuk berteduh di Nurul Ashri dan seketika itu pula aku langsung mengambil jalan kekanan menuju Nurul Ashri.
Saat sampai di masjid itu, hanya ada dua orang yang ikut berteduh dari hujan. Satu orang bersandar pada tiang di sebelah utara, dan seorang lagi berada di beranda sebelah selatan masjid. Aku melangkah mengambil air wudhu dan menunaikan kedua sholat sunnah. Ketika selesai, saya menoleh ke sebelah utara, dimana seorang bapak yang cukup tua sedang bersandar pada tiang masjid. Dari penampilannya yang tak cukup rapi, tampak bahwa Ia seorang musafir. Ia mengangkat sebotol air minum setinggi dada dengan tangan gemetar. Berdoa untuk waktu yang sangat lama, dan kemudian meminumnya untuk seteguk. Ya.. hanya seteguk saja yang Ia minum tetap dengan tangan yang gemetar.
Pemandangan ini membuatku ingin sekedar mengobrol dengannya, sembari menunggu hujan reda. Namun aku tak cukup berani mengawali pembicaraan. Aku hanya berjalan memutar, melihat ke kolam, tempat dimana ikan koi yang besar besar sedang dengan bebasnya berenang.
Setelah beberapa saat kuberanikan diri untuk menghampiri orang tersebut. “Warga sini ya pak” ujarku sekedar berbasa basi. Diluar dugaanku, dia justru mencoba bercerita panjang dengan nada lirih terbata bata. Ia menceritakan bahwa dirinya adalah seorang bujang meski cukup tua (tampaknya sekitar 45 tahunan), disini (jogja) sendirian tidak punya anak dan istri. Berasal dari Gorontalo dan dulu sewaktu muda adalah perantauan, dan ketika tua dia hanya bisa bertahan (mencoba bertahan hidup) dari masjid ke masjid. Hanya itu yang mampu kudengar karena memang tutur katanya sangat lirih pun dengan terbata bata.
Degg…kisahnya membuatku merinding, bertahan hidup dengan sebotol air yang entah itu air dari keran ataukah air masak. Seorang perantau yang tidak lagi bekerja dan hanya ditemani oleh satu botol air minum, sepasang sandal dan sebuah kaos yang dilipatnya serta pakaian yang sedang dikenakannya. Lebih memilih menggigil kelaparan daripada menjadi peminta minta dan tetap berusaha untuk selalu dekat dengan Allah, menjadikan rumah Allah tempatnya menyerahkan segala ikhtiarnya.
“Sudah sarapan pak?” tanyaku. “Sebenarnya saya belum sempat makan apa apa” jawabnya lirih terdengar. Tampak Ia mencoba menahan diri untuk tidak menangis dihadapanku. Aku hanya bisa memberikan sedikit bantuan kepada bapak tersebut sembari meminta beliau untuk tetap memohon pada Allah. Bantuan yang Ia sendiri tak mau menerima langsung. Tak banyak yang bisa kukatakan waktu itu karena aku sendiri menjadi terbata bata, setelah mendengar kisah hidupnya.
“Bapak muslimkan?” tanyaku ketika tersadar bahwa bisa saja Ia hanya mencari tempat berteduh di masjid ini. Dia kemudian bercerita bahwa dahulu ketika masih muda dia adalah muadzin.
Aku hanya bisa mengingatkan untuk jangan melupakan Allah, apapun musibah yang sedang diujikan ke kita(karena aku sendiri tak tahu harus berkata apa). Kemudian aku meninggalkannya. Menyalakan motorku dan segera meninggalkan masjid itu. “Hasbunallah wa nikmal wakil..hasbunallah wa nikmal wakil..” airmataku tak tertahan lagi, tubuhku serasa terguncang ketika sebuah cobaan sedemikian berat ternyata kutemui di depan mataku.
Sebuah musibah yang mungkin tak semua orang mampu tetap bersabar dengannya. Ketika kita sudah cukup tua mendekati umur lima puluh tahun, jauh dari kampung halaman, tanpa saudara, teman, istri dan anak. Mencoba bertahan hidup di tengah kota, sekedar bertahan untuk hidup yang lebih panjang. Namun tetap membuatnya bertahan untuk tidak memilih jalan hidup sebagai pengemis ataupun melakukan tindakan kriminal dan menyerahkan segalanya pada Allah.
Maha besar Allah atas segala rencananya.
‘dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).’ (QS. Al Fath:3)
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



[...] Sepenggal fenomena [...]