Kemarin sore ketika sedang dalam perjalanan ke rumah, untuk kesekian kalinya saya harus terjebak hujan. Membuat saya harus menepi untuk mengenakan mantel. Memang kalau memakai motor ada banyak untung ruginya, dengan motor maka kita dapat menikmati aksesibilitas yang lebih luas ketika ingin menelusup ditengah tengah kemacetan, menyusuri gang gang kota Jogja yang memang terkenal sempit (perasaan dikota kota lainpun yang namanya gang juga sama sempitnya) atau untuk sekedar k€βμζ**@π di jalanan. Namun ketika hujan datang, maka kita harus lebih banyak bersabar, and riding carefully.
Hanya dalam hitungan detik setelah saya menyalakan motor kembali, sebuah motor dengan kecepatan tinggi menyerempet sisi kanan saya. Posisi saya yang masih berjalan lambat menguntungkan saya sehingga masih mampu mengendalikan keseimbangan dan tidak jatuh tersungkur. Alhamdulillah, hanya footstep yang bengkok tersambar motor plus knalpot berikut sistem pengapian yang menjadi korban. Namun sial bagi bapak yang menyerempet saya. Ia langsung tersungkur tepat di depan saya lengkap dengan anak dan istri yang diboncengnya.
Dari penuturan bapak tersebut, semula Ia berencana untuk memeriksakan anaknya yang memang pada saat itu tangan kanan si anak sedang di perban dengan dua papan melekat didalamnya. Anak tersebut pada pagi harinya mengalami patah tulang ketika sedang bermain bola di sekolah dan sore hari baru akan diperiksakan. Yup..sebuah tangan yang patah, dan sore ini bertambah hiasan lecet lecet beberapa bagian tubuhnya. Bukan hanya pada si anak tapi juga pada bapak dan ibunya.
Dengan mata melotot bapak tersebut langsung memarahi saya sembari menyita SIM saya. Sedikit membuat saya terheran karena kali ini saya yang ditabrak, saya yang dimarahi dan saya pula yang akan bertanggung jawab. Namun bagaimanapun urusan ini harus segera selesai, karena saya pernah mengalami hal yang sama (saat itu saya terjatuh ketika sedang berangkat ke sekolah dan kupaksakan untuk tetap mengikuti pelajaran sampai usai, baru setelah agak sore kuperiksakan ke rumah sakit dalam keadaan membengkak).
Jikapun ditawari, tidak seorang pun dari kami (dan mungkin tak seorangpun dari kita) yang ingin mengalami musibah seperti ini. Namun semua ini adalah takdir Allah, ketika seseorang yang berjalan perlahan harus tertabrak bukan dari depan atau samping, tapi justru dari belakang. Ketika seseorang yang ingin menolong anaknya dan hampir terjebak hujan terpaksa menabrak pengendara yang berada di depannya (mungkin karena pengendara tersebut terlalu pelan sehingga harus tertabrak). Dan ketika itu pula seorang hamba menyadari bahwa kita bukanlah apa apa, kita hanyalah setitik debu yang teramat lemah dan tak berarti. Debu yang tunduk pada kuasa Allah akan takdirnya, debu yang hanya dalam sehari saja dijadikan sebagai pintu rizki atas hambanya pada satu waktu dan sekaligus menjadi pintu musibah bagi hamba lainnya pada sepenggal waktu berikutnya.
Maha besar Allah atas segala rencanaNya.
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus:10).
Note:
Sekaligus permintaan maaf ke teman teman, karena tidak jadi menyertai ke Dieng. Bukannya mau ingkar janji, tapi memang kondisi tidak memungkinkan( btw sebagian jatah buat bayar semesteran juga terpakai buat pengobatan korban. Mmm…ada yang bisa dipinjami uang ?)
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



setisp kejadisn pasti mengandung hikmah ya bang…
-so salam kenalkoe-
Kapan jadinya ke rumah anita?
He he he atos juga kamu Rom ketabrak bisa jaga keseimbangan