Sketsa dua hujan dan senja

Tautan antara sepenggal fenomena dan debu diatas langit..

Hanya pada sebuah senja, dalam dua titik hujan saya dipertemukan dengan orang orang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Orang orang yang sampai saat ini hanya dapat kuingat wajahnya, tanpa pernah tahu nama mereka. Orang orang yang kemudian bertaut sketsa hidup denganku, untuk sesaat. Orang orang yang kemudian kunamakan sebagai manusia pagi dan manusia senja.

Tidak banyak yang kutahu dari kedua orang ini. Setahuku manusia pagi adalah seorang pengelana, jauh dari negeri seberang. Bertekad untuk memperjuangkan nasib, dan kutemukan sedang berteduh bersamaku dari hujan dalam keadaan papa. Ia hanya berteman dengan sebotol air minum dan sebuah kaos yang dilipatnya, tanpa saudara,tanpa rumah, tanpa istri apalagi anak. Bahkan dengan umurnya yang sudah cukup tua, dia belum pernah merasakan indahnya pelaminan.

Kondisinya yang mulai sakit dan terlihat menua memaksanya untuk selalu mendekatkan diri pada Allah. Bertahan hidup dari masjid ke masjid, mengikhlaskan takdir hidupnya dan selalu memohon akan pertolongan serta perlindungan Allah bahkan dalam seteguk air yang akan diminumnya. Kondisinya yang teramat lemah dan tidak berharga tidak membuatnya ingin mengambil jalan pintas. Jalan pintas yang sering diambil orang lain dengan menjadikan diri mereka peminta minta, pelaku kriminal, ataupun jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan dengan melepaskan nafasnya. Ketika kita diuji kehilangan segalanya, berapa orang dari kita yang akan tetap bertahan pada asa, berpegang teguh pada keyakinannya tanpa mengambil jalan pintas? Tidak banyak, dan orang ini adalah salah satu dari sejumlah orang tersebut.

Pilihan hidup yang diambilnya teramat asing dimata saya, bahkan tidak masuk akal. Membuatnya terlihat bak ksatria yang kalah perang. Ksatria yang tidak takut akan kematian, dan berusaha untuk tetap bertempur sampai titik penghabisan meskipun kekuatannya bukan lagi ancaman. Ksatria yang kehilangan harga dirinya karena kejayaan telah terenggut darinya, namun tak membuatnya ingin melepas kehormatan yang masih tersisa. Walaupun kesejahteraannya akan lebih baik apabila ia mau melepas baju zirahnya, bukan berarti kemudian ia memilih untuk melepas baju zirah dan melupakan sumpah ksatrianya.

Di satu titik hujan lain saya bertemu manusia senja. Usia manusia senja nampak tak berselang jauh dari manusia pagi. Akan tetapi manusia senja terlihat lebih sejahtera, setidaknya ia memiliki rumah, istri beberapa harta dan seorang anak. Anak yang sedang dilanda musibah karena tangan kanannya patah. Bersama mereka saya melalui sebuah peristiwa. Sebuah peristiwa yang menggoreskan luka pada tubuh ketiganya.

Mungkin karena beban hidup manusia senja yang teramat berat, Ia memilih jalan hidup yang sedikit arogan. Melampiaskan segala kekesalannya pada orang yang tidak dikenalnya. Orang yang nampak tepat untuk dipersalahkan. Bersama istrinya, Ia tak henti hentinya melakukan pembelaan dengan membangun opini publik. Pembelaan yang saya sendiri malas untuk mendebatkannya (cukuplah Allah sebagai saksi dan bukankah Allah tidak pernah tidur? dan jikapun ternyata saya yang salah, yang penting saya sudah bertanggung jawab). Sebuah pilihan hidup yang terlihat lebih rasional bagi saya, pilihan hidup yang dapat saya pahami karena mungkin musibah ini terasa terlalu berat bagi manusia senja.

Dua titik hujan sebelum senja yang kemudian mengenalkan saya akan ujian dari Allah berikut dua cara yang teramat berbeda untuk dapat keluar dari musibah tersebut. Kita tidak pernah tahu kapan dan melalui sebab apa sebuah musibah akan menimpa kita. Semua itu adalah bagian dari takdir Allah. Akan tetapi kita selalu memiliki pilihan dengan cara apa kita akan melalui musibah tersebut.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (Al Ahzab:17)

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At Taghaabun:11)

& Komentar

  1. Banyak sekali peristiwa yang bisa kita ambil hikmahnya ya. Terus menulis hingga kau menemukan karakter tulisanmu Rom. Kita hanya bisa belajar dari kebaikan-kebaikan dan itu yang membuat karakter bagi diri kita. Tak bisa kita menyamai karakter orang lain. Begitulah.

  2. Postingan singkat yang memiikiki makna yang sangat luas, dibutuhkan waktu yang khusus untuk memahami isi kandungan di dalamnya, aku bookmark dulu aja supaya tidak kehilangan jejaknya…. salam mas :)

  3. Assalamualaikum,
    lanjutkan menulisnya yach

  4. ra tak kiro kowe iso nulis koyo ngono kuwi!!tapi satu pertanyaan kowe emang mudeng opo seng kok tulis ra??soale aku rak dong maksudmu.:-),…tapi kata-kata ne keren bro!!

  5. terkadang manusia yg memiliki kemampuan serba terbatas bisa sangat bahagia dan baik dlm kehidupan sosial karena ada syukur d dlmnya. Dan sebaliknya manusia yg di beri kelebihan tidak bisa menikmati hidupnya.


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar