Semalam, tepat di lampu merah utara kampus UIN SuKa, seorang gadis kecil masih juga menghampiri pengendara pengendara yang sedang berhenti. Ia membawa sebuah wadah dari air minum gelasan, berharap ada seseorang yang mengulurkan tangan kepadanya. Tak ada yang mengisi gelas tersebut, kecuali rintik hujan yang semakin deras.
Setiap orang terlalu sibuk dengan tujuan masing masing sehingga gadis kecil tersebut hanya dipandang sambil lalu. Apalagi hujan sudah semakin deras dan setiap orang pasti ingin segera dapat berteduh dari hujan, terkecuali gadis kecil tersebut. Gadis kecil yang terlewatkan.
Keras kehidupan yang dilalui oleh gadis kecil tersebut mengingatkan saya pada seorang teman lama. Seorang teman yang semalam menyediakan tempat bagi saya untuk bermalam. Memaksa saya untuk memakai kasurnya, sedangkan Ia lebih memilih tidur ditikar. Seorang teman yang tak lagi mendapatkan asupan nafkah dari orang tuanya. Sehingga memaksanya untuk terus mencari pekerjaan untuk mempertahankan hidupnya, dan ketika tak ada yang mau mempekerjakannya maka Ia menjadi pengamen jalanan.
Hasil dari mengamen tidaklah seberapa, karena Ia juga harus berbagi wilayah dengan pengamen lain. Namun dari hasil yang tak seberapa itu, setengahnya masih harus diberikan kepada penguasa wilayah. Dan terkadang ketika Ia dan teman temannya sedang berkumpul, uang itu habis digunakan untuk membeli minuman keras.
Dengan kehidupan seperti itu, Ia banyak memiliki teman sesama pengamen dan anak jalanan. Membuatnya membangun solidaritas sesama pengamen. Dan ketika mereka ingin berpesta, maka Ia harus turut serta atau tak lagi diijinkan mengamen lagi. “Makan urusan besok, sekarang untuk urusan sekarang” , itu kata kata yang sering dipakai temannya ketika memaksa iuran, menyerahkan hasil mengamen untuk membeli minuman keras oplosan. Pada saat seperti itu Ia tak lagi dapat menghindar.
Dan mungkin, justru para pengamen itulah yang mampu memahami keadaannya. Mampu menjadi sahabatnya, pada saat kehidupan ini pahit sekalipun, dan bukan saya.
Mungkin justru orang orang seperti teman saya inilah yang lebih mampu memaknai sebuah kehidupan. Ketika kesulitan tetap membuatnya tegak berdiri, tidak menjadikannya seperti anak kecil yang cengeng. Berhadapan dengan kekerasan, atau tak lagi makan keesokan harinya.
Mereka dengan keterbatasannya, mencoba berbagi kebahagiaan kepada sesamanya meski terkadang jalan hidup yang mereka ambil salah. Yup..hidup mereka memang tidaklah sempurna, tidak cukup sempurna untuk diimpikan oleh kebanyakan orang.
Dan jika kita tidak pernah mengimpikan kehidupan seperti itu, jika kita memandang bahwa kehidupan tersebut tidak cukup sempurna untuk dihormati. Lalu kenapa kita yang setidaknya kehidupannya lebih baik, justru tidak memiliki ketegaran yang mereka miliki. Kenapa kita mudah bersedih dan putus asa ketika apa yang kita harapkan tidak berubah nyata. Padahal upaya yang kita berikan sebenarnya belumlah cukup untuk membuat impian kita nyata.
(teruntuk seorang teman di dekat rel)
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



Teringat kata Ipho Santosa dalam “10 Jurus Terlarang”, salah satunya berdamailah dengan badai, karena jika kita lari darinya kita takkan dapat tempat, karena badai ada di mana-mana….
Kesulitan pasti menghampiri kita, so seharusnya diajak berdamai…klo dah piss…kan bisa di-rembug-an mengenai pembagian tempat, iya toh….?
seringnya seseorang ditempa oleh pengalaman, terutama pengalaman yang tidak bersahabat dengan kesenangan, membuat dirinya menjadi manusia yg lebih siap, lebih bisa bertahan menghadapi dunia ini. Bersyukurlah temans…..bahwa kita msh merasakan kenyamanan hidup juga kasih sayang dr ortu dan org2 terdekat
salam kenal aja deh