Seorang teman dan kopi pagi

Hari ini pagi  datang sedikit terlambat. Hujan semalam masih menyisakan mendung gelap yang menggantung, menjadikan malam seakan lebih panjang dari biasanya. Membuat suara adzan subuh terserap sempurna oleh dinginnya pagi. Setelah menunaikan sholat subuh di masjid yang sepi (ya iyalah, jama’ahnya udah kelar dari tadi), saya mengawali hari dengan mengajak seorang teman (diajak lebih tepatnya) untuk minum kopi di sebuah warung burjo yang hanya berjarak beberapa meter dari kost-nya.

Sembari menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi, kami berbagi cerita tentang kehidupan masing masing. Terkadang perhatian kami tersita dengan orang yang lalu lalang di depan warung. Saat seorang pemulung lewat di depan kami, tiba tiba teman saya bertanya “Kira kira anaknya tau ngga’ ya kalo ayahnya jadi pemulung“. Saya mencoba menerka sekenanya “Ya, taulah“. Dia langsung menyahut “Kira kira anaknya malu ngga’ ya, kalo tau ayahnya seorang pemulung?” . Sejenak membuatku berpikir sedikit lebih keras.

Saya mencoba membayangkan bagaimana kondisi psikologis si anak. Di satu sisi, tentu saja seorang anak ingin dapat tampil didepan teman temannya seperti anak anak yang lain. Memiliki kehidupan yang layak, tanpa cibiran masyarakat. Mungkin saja pada satu waktu si anak tersebut pernah merasa marah dan malu karena Ayah tidak mencari pekerjaan yang lebih baik (setidaknya dari sudut pandang masyarakat).

Namun di satu sisi, si anak sebenarnya memiliki seorang Ayah yang teramat mencintainya. Rela bekerja keras dan berangkat pagi pagi sekali, bahkan ketika orang lain masih enak enakan tidur. Ia memiliki seorang Ayah yang berjuang merubah masa depan anaknya, agar kelak si anak tak lagi harus bernasib sama seperti Ayahnya. Agar kelak si anak memiliki kehidupan yang lebih baik dan dapat membuat orang tuanya bangga.

Dialog pagi itupun tak menghadirkan satu jawaban dari saya . Kemudian pertanyaan itu dijawab sendiri oleh teman saya “Seharusnya anaknya ngga’ boleh malu“.

Pagi ini lewat dialog kecil, seorang teman seolah membawakan sebuah cermin pada saya. Mencoba membangunkan saya dari tidur panjang yang membuat saya lupa bahwa saya harus benar benar terbangun. Benar benar berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Benar benar terbuka matanya dan mampu melihat bahwa di dunia ini ada yang mungkin tidak seberuntung kita, namun mereka tak pernah menyerah dan tak pernah lupa untuk bersyukur atas apa yang mereka peroleh.

Saya menjadi teringat bahwa kesuksesan seseorang justru bukan dinilai dari harta ataupun jabatan yang Ia peroleh, bukan dari sisi luar orang tersebut. Akan tetapi dinilai dari inner yang ada pada orang tersebut. Kesuksesan dinilai dari mentalitas mereka yang tak kenal menyerah dan tak pernah takut untuk terus mencoba. Dinilai dari semangat hidup yang tak pernah padam, meskipun mereka waktu itu tengah terhempas pada titik nadir kehidupan. Dinilai dari kejernihan  pikiran mereka sehingga ketika sebuah musibah datang, Ia tidak menjadi orang yang berpikiran pendek. Dinilai dari kejernihan hati mereka sehingga ketika sebuah musibah melanda, Ia masih bisa tersenyum, mencoba mengambil hikmah dan bersyukur karena pelajaran besar tengah diberikan kepadanya. Sehingga kelak Ia dapat menjadi insan yang lebih baik lagi..

& Komentar

  1. Membaca tulisanmu rom…jadi teringat dgn seorang kepala sekolah salah satu Sekolah Dasar yang mempunyai pekerjaan sambilan sebagai pemulung, tanggapan masyarakat ada yg simpati, ada yang bilang bahwa dia menjatuhkan wibawa seorang guru, bagaimana anak didiknya menghadapi tanggapan negatif d masyarakat?. aku sendiri saluutt, untuk bertahan hidup dia mau mencari penghidupan halal yg kata orang2 punya image hina, bagaimana dgn orang2 yg mencuri hak rakyat?siapa sebetulnya yg terhina?

  2. Iya..mengingatkan pada jawara eagle award kalo g salah, bukan begitu mbak lina..?

  3. Sudah seharusnya jika kita ingin sukses kita harus berkerja keras dan berkorban dalam menghadapi maalah” yang ada di depan kita.
    Terima kasih sekali yah??
    Artikelnya membuat saya jadi semangat untuk menjalani hidup ini.


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar