Alhamdulillah, satu ungkapan rasa syukur ketika menginjak sebuah hari dimana agenda dalam hari tersebut tak lagi sepadat hari hari sebelumnya. Sebuah hari yang tak begitu spesial, namun justru memberi kesempatan untuk sedikit berbenah (dan posting lagi
). Kesempatan untuk berkaca kembali, karena ternyata masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Kesempatan untuk rehat sebentar, memberi jeda untuk pikiran dan hati agar dapat berkoordinasi.
Sedikit terhenti untuk melangkah kembali. Walaupun dalam hidup kita sebenarnya tidak ada kata berhenti, yang ada adalah terus berjalan. Hanya saja yang perlu kita perhatikan adalah apakah kita berjalan dengan arah tujuan yang benar ataukah menyimpang? Apakah selama ini kita telah mengikhlaskan langkah kita, untuk melangkah menuju tujuan hidup kita yang sebenarnya. Ataukah langkah kita justru telah terbiaskan oleh kesibukan kesibukan yang tak berarti. Terjebak pada masalah masalah kecil yang sebenarnya mampu kita atasi jika kita memang punya kesungguhan hati.
Allah berfirman,
Kehidupan dunia ini hanyalah suatu permainan atau senda gurau. Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, lebih baik dan kekal (QS Al An’aam: 32).
Oleh sebab itu, Muslim tidak boleh teperdaya oleh kehidupan dunia yang bersifat sementara. Ia perlu mempertimbangkan kepentingan kehidupan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Allah berfirman, ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya? Maka, apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS Al Qashash: 60-61).
Pagi ini saya teringat kembali akan kisah seorang Panglima Perang bernama Thariq, yang dengan jumlah pasukan cenderung minim, mendarat di sebuah batu karang tepi pantai untuk membebaskan suatu daerah dari kekuasaan seorang Penguasa Zhalim. Setibanya di Pantai, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal. Lalu ia berkata pada pasukannya, “Tidak ada lagi jalan ke Belakang, Di Belakang adalah laut, dan di Depan adalah musuh, Jika kalian tetap ingin hidup, tidak ada cara lain selain mengalahkan mereka”, maka pasukan itu pun terus maju, dan akhirnya pasukan itu pun menang. Dan selat itupun sekarang dinamai selat Gibraltar.
1 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



Filosofi, ya. itu adalah suatu pendekatan yang kita punya untuk mengambil suatu pelajaran. dalam cara pandang itu menjadi tekad dan pendorong untuk kita tak menjadi bagian masa lalu. namun kita menjadi bagian dari masa depan. nah, kadang patahan-patahan kisah “doa” itu tercecer begitu..makanya doaku itu tercecer kemarin. lah wong sekarang kan perjuangan menuju gerbang S1…ya to…?!!