Hidup manusia bak seekor burung yang dikaruniai sepasang sayap. Seekor burung dengan kepakan sayapnya dapat melayang kesana kemari. Hinggap dari satu dahan ke dahan lainnya. Mengumpulkan tebaran rizki yang telah disiapkan Allah sepanjang hari, dan kemudian berlabuh di sangkar ketika hari mulai gelap.
Begitu pula dengan kita, setiap manusia dikaruniai sepasang sayap dimana kita tak akan mampu melakukan apapun tanpa kedua sayap tersebut. Sepasang sayap itu adalah sayap kecemasan (kalau Ustadz menyebutnya sayap ketakutan atau sayap kekhawatiran) pada satu sisi, dan sayap pengharapan pada sisi lainnya.
Sayap kecemasan adalah sayap yang selalu membuat kita takut akan azab Allah apabila kita melanggarnya. Sayap yang selalu mengingatkan kita akan kematian dan datangnya hari pembalasan. Sayap yang selalu membawa kita untuk tidak melanggar ketentuan dan laranganNya. Sedangkan sayap pengharapan adalah sayap yang membuat kita mampu melihat bahwa akan selalu ada harapan dalam hidup kita. Sayap yang mengajarkan bahwa do’a kita bukanlah hal yang sia-sia dan terbuang percuma. Sayap yang selalu mengingatkan bahwa akan selalu datang ampunan jika kita bersungguh sungguh untuk bertaubat dari kemaksiatan kemaksiatan.
Namun kedua sayap tersebut belum akan mampu membuat kita terbang melayang ke angkasa apabila kedua sayap tersebut kita biarkan tak terjaga. Kita biarkan salah satu sisinya patah dan tak berfungsi. Seekor burung yang mempunyai sepasang sayap pun dapat menjadi oleng atau bahkan terjatuh bila ia terbang dengan sayap yang patah atau tidak seimbang.
Begitu pula dengan kita, apabila sayap kecemasan kita tidak mampu berfungsi dengan baik dan hanya menyisakan sayap pengharapan, maka yang terjadi adalah kita akan hidup sebagai insan yang melampaui batas. Menjadi insan yang merasa tidak takut akan azab Allah, insan yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan keinginannya.
Sebaliknya, apabila sayap pengharapan kita tidak mampu berfungsi dengan baik dan hanya menyisakan sisi sayap kecemasan, maka yang terjadi adalah kita akan menjadi orang yang sangat takut pada azab Allah. Sebegitu takutnya hingga ia beranggapan bahwa do’a kita tidak akan dikabulkanNya. Beranggapan bahwa taubat kita tidak akan pernah diterimanya. Menjadikan ia insan yang kehilangan harapan hidup. Terkurung dalam alam pikirannya, tidak pernah mau berusaha. Hingga pada akhirnya ia hanya akan menjadi beban bagi orang orang disekitarnya.
Untuk itulah dibutuhkan sebuah keseimbangan, agar sayap sayap kita dapat kompak terkepak hingga mampu membawa kita menembus awan. Membuat hati kita yakin bahwa ketika badai datang, kita pasti mampu melewatinya. Membuat kita bersyukur atas rizki yang terlimpah ruah. Membuat kita tersadar, bahwa mungkin diantara kita ada yang tak mampu mengepakkan sayap seperti kita, dirundung duka karena salah satu sayapnya patah. Maka tugas kitalah untuk mengobati sayapnya, menyemangatinya agar dapat segera terbang kembali. Menuturkan keindahan bentangan alam saat kita melintas diatasnya.
Life is just a matter of choices, tepatnya life is about choosing wisely (ni dipetik dari kebun tetangga). Artian lepasnya begini : “ Hidup hanyalah tentang membuat pilihan, atau tepatnya membuat pilihan dengan bijak” (koreksi kata kata saya kalau salah, maklum tupl-nya masih under 500). Selebihnya ada ditangan kita, ingin menjadi insan seperti apakah kita ini.


